Blog ini berisi tentang narasi nilai,moral,etika yang mengulas secara lengkap dan mudah dimengerti


Kamis, 09 April 2020

Pengertian Pendidikan Karakter Kewarganegaraan

| Kamis, 09 April 2020
PENDIDIKAN KARAKTER KEWARGANEGARAAN



     A. PENGERTIAN 


     Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. Selama ini, pendidikan informal terutama dalam lingkungan keluarga belum memberikan kontribusi yang cukup berarti dalam mendukung pencapaian kompetensi dan pembentukan karakter peserta didik. Kesibukan dan aktivitas kerja orang tua yang relatif tinggi, kurangnya pemahaman orang tua dalam mendidik anak di lingkungan keluarga, pengaruh pergaulan di lingkungan sekitar, dan pengaruh globalisasi ditengarai bisa berpengaruh negatif terhadap perkembangan dan pencapaian hasil belajar peserta didik. Salah satu solusi alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pendidikan karakter terpadu, yaitu memadukan dan mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah. Dalam hal ini, waktu belajar peserta didik di sekolah perlu dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil belajar dapat dicapai, terutama dalam pembentukan karakter peserta didik . Integrasi pendidikan karakter ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dapat di lakukan pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat. Sasaran pendidikan karakter adalah seluruh warga sekolah, meliputi para peserta didik, guru, karyawan administrasi, dan pimpinan sekolah menjadi sasaran program ini. Sekolahsekolah yang selama ini telah berhasil melaksanakan pendidikan karakter dengan baik dijadikan sebagai best practices, yang menjadi contoh untuk disebarluaskan ke sekolah-sekolah lainnya.
          Berdasarkan pada UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, termasuk Sekolah Menengah Atas (SMA) harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. 
           Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. 
        Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.          Pendidikan karakter perlu dilaksanakan pada setiap jenjang pendidikan karena sangat urgensi sekali, karena situasi dan kondisi sekarang banyak terjadi degradasi nilai-nilai moral terhadap anak-anak, banyak terjerumus dan terjerembab ke dalam hal-hal serta perilaku menyimpang (perilaku negatif). Pendidikan karakter sangat membantu untuk menopang keberhasilan pembentukan moralitas dan akhlak para generasi muda terutama kalangan anak dan remaja yang muaranya akan memberikan kekuatan moral (moral force) bagi pembentukan sikap dan kepribadian yang baik. 
       Dengan situasi yang demikian inilah penulis melakukan pengintegrasian nilai-nilai pendidikan karakter melalui proses pembelajaran secara langsung atau tatap muka di kelas melalui Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Dengan adanya integrasi nilai-nilai pendidikan karakter melalui Rencana Pelaksanaan Pembelajaran secara langsung maupun tidak langsung peserta didik dapat memperoleh dan menerima pembelajaran yang harapannya pada tahapan awal mengetahui dan memahami dan pada akhirnya mengamalkan nilai-nilai tersebut sehingga dapat terbentuk “Nation Character Building” yang artinya pembentukan karakter bangsa. Bung Karno pernah menyampaikan bahwa sebelum membangun bangsa Indonesia ini, bentuklah karakter para generasi muda sebagai ujung tombak di negeri ini. Hal ini membuktikan bahwa betapa pentingnya pendidikan karakter bagi generasi muda yang akan mampu melahirkan generasi muda penerus bangsa yang bermartabat dan berakhlak mulia. Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Integrasi nilai pendidikan karakter melalui proses pembelajaran memang perlu sekali diterapkan disemua jenjang pendidikan. Namun setiap pelaksana pendidikan terutama Gadik (tenaga pendidik) perlu memahami Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebagai media untuk mengetahui cara bagaimana menerapkan dan mengintegrasikannya sehingga peserta didik bisa mengerti dan memahami nilai-nilai pendidikan karakter. 
          Rencana Pelaksanaan Pembelajaran selanjutnya disingkat RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai kompetensi dasar. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran secara lengkap dan sistematis. Agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran disusun untuk setiap kompetensi dasar yang dapat diklaksanakan untuk satu kali pertemuan atau lebih. Guru merancang bagian demi bagian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan. 

       B. Konsep Pendidikan berbasis karakter

          Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter diartikan sebagai sifat sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Karakter juga bisa diartikan tabiat, yaitu perangai atau perbuatan yang selalu dilakukan atau kebiasaan. Karakter juga diartikan sebagai watak, yaitu sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku atau kepribadian yang didalamnya terdapat unsur pengetahuan, perasaan dan dorongan naluri. 

    Karakter anak yang termasuk dalam kategori sehat sebagai berikut : 

1. Afiliasi tinggi Anak tipe ini mudah menerima orang lain menjadi sahabatnya, Ia juga sangat toleran terhadap orang lain dan bisa diajak bekerjasama. Oleh karena itulah, ia punya banyak teman dan disukai teman-temannya. 
2. Power tinggi Anak tipe ini cenderung menguasai teman-temannya, tapi dengan sikap positif, artinya ia mampu menjadi pemimpin untuk teman-temannya. Anak tipe ini juga mampu mengambil inisiatif sendiri sehingga bisa menjadi panutan bagi teman-temannya.
3. Achiever Anak tipe ini selalu termotivasi untuk berprestasi(achievement oriented). Ia lebih mengedapankan kepentingannya sendiri daripada kepentinganb orang lain(egosentris).
4. Asserter Anak tipe ini biasanya lugas, tegas dan tidak banyak bicara.Ia mempunyai keseimbangan yang cukup baik antara kepentingan sendiri dan kepentingan orang lain. Selain itu, ia juga mudah diterima di lingkungannya. 
5. Adventurer Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume II, No 2, Juli 2012 Anak tipe ini biasanya menyukai petualangan, meski tak selalu ke alam. Artinya, anak tipe ini suka mencoba hal-hal yang baru.

   Adapun karakter yang tergolong tidak sehat adalah :

1. Nakal Anak tipe ini biasanya selalu membuat ulah yang memancing kemarahan, terutama kepada orang tua. Hal ini seringkali terjadi secara alami dan muncul karena sikap orang-orang yang ada di sekelilingnya, terutama orang tua.
2. Tidak teratur Anak tipe ini cenderung tidak teliti dan tidak cermat. Hal ini kadang-kadang tidak disadarinya. Meskipun diingatkan, ia seringkali masih melakukan kesalahan yang sama. 
3. Provokator Anak tipe ini suka berbuat ulah dengan mencari gara-gara dan ingin mendapat perhatian orang lain, seringkali tindakannya dalam bentuk kata-kata, namun tidak jarang berujung perkelahian.
4. Penguasa Anak tipe ini cenderung menguasai teman-temannya dan suka mengintimidasi orang lain. Ia berharap orang lain harus tunduk dan patuh padanya.
5. Pembangkang Anak tipe ini sangat bangga jika memiliki perbedaan dengan orang lain dan ia ingin tampil beda, sehingga ketika ia diminta melakukan sesuatu yang sama dengan orang lain, ia membangkang. Di dalam Konferensi ASPEN berkaitan dengan karakter menyepakati enam poin utama sebagai pembangunan atau pendidikan karakter. 

      C. Langkah-Langkah Pembentukan karakter 

              1. Memasukkan konsep karakter pada setiap kegiatan pembelajaran dengan cara :
a. Menanamkan nilai kebaikan kepada anak (knowing the good) 
b. Menggunakan cara yang membuat anak memiliki alasan atau keinginan untuk berbuat baik (desiring the good) 
c. Mengembangkan sikap mencintai perbuatan baik (loving the good) 
d. Melaksanakan perbuatan yang baik (acting the good) Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume II, No 2, Juli 2012 
             2. Membuat slogan yang mampu menumbuhkan kebiasaan baik dalam segala tingkah laku masyarakat sekolah. Kebersihan  Kebersihan Sebagian dari Iman  Kebersihan Pangkal Kesehatan Kerjasama  Tolong-menolonglah dalam kebaikan, jangan tolong-menolong dalam kejelekan  Berat sama dipikul ringan sama dijinjing Jujur  Kejujuran Modal Utama dalam Pergaulan  Katakan yang Jujur walupun itu pahit Menghormati  Hormati Guru Sayangi Teman  Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu Sabar  Sesungguhnya Allah Bersama Orang yang Sabar  Jadikan Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu Sopan  Keselamatan Manusia Terletak Pada Mulutnya.  Anda sopan kami segan 
            3. Pemantauan secara kontinyu Pemantauan secara kontinyu merupakan wujud dari pelaksanaan pembangunan karakter. Beberapa hal yang perlu dipantau antara lain :  Kedisiplinan masuk sekolah  Kebiasaan saat makan di kantin  Kebiasaan di kelas  Kebiasaan dalam berbicara (sopan santun berbicara)  Kebiasaan ketika diMasjid/Musholla  Kebiasaan lain.

          Pendidikan karakter juga bisa dilakukan melalui penanaman moral. Dalam penanaman moral ini dikelompokkan dalam wilayah Soft competencies yaitu kemampuan dasar yang belum tampak yang harus ditanamkan kepada anak. Soft Competencies inilah yang akan menjadi penentu keberlangsungan anak hingga mencapai keberhasilan yang tampak, yakni kemampuankemampuan yang terukur dan bisa dirasakan oleh anak. Yang sering disebut Hard Competencies. Soft Competencies terbagi tiga bagian. Pertama, perilaku yang meliputi kejujuran, sopan santun, empati dan lain-lain. Kedua, Konsep diri yang meliputi keberanian berpendapat, percaya diri dan sebagainya, Ketiga,Motivasi yang meliputi kesungguhan belajar, tanggung jawab, disiplin, dan Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume II, No 2, Juli 2012 lain-lain. Yang termasuk hard competence antara lain kemampuan akademik, kemampuan berbahasa, kemampuan teknik (terampil komputer, seni dan lain-lain ). Hard Competence bisa konsisten apabila Soft Competencies memberikan dukungan yang kuat. 



      Daftar Pustaka ;
 Sulhan, Najib. 2010. Pendidikan Berbasis Karakter, Sinergi antara Sekolah dan Rumah dalam Membentuk Karakter Anak, Surabaya: Jaring Pena.
 Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran,Mengembangkan Profesionalisme Guru, Jakarta: Rajagrafindo persada. 
http://id.wikipedia.org/wiki/Nilai_sosial#Pengertian_Nilai_Menurut_para_Ahli dikunjungi 4 Pebruari 2011
 http://smatengaran.blogspot.com/2008/06/konflik-dan-integrasi-sosial.html dikunjungi 4 februari 2011 
Tom Lickona.,Eric Schaps.,Chaterina Lewis. 2007. Character Education Partnership Eleven Prinsiples of Effective Character education, Washington DC: Character Education Partnership. 
Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume II, No 2, Juli 2012 
Abdullah Munir. 2010. Pendidikan Karakter, Membangun karakter Anak-Anak dari Rumah, Yogyakarta:PEDAGOGIA.,Pustaka Insan Madani. 
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/Tentang Pendidikan 
Suyanto. 2006. Di Belantara Pendidikan Bermoral,Yogyakarta: UNY Press 
John Adair. 2008. The Art of Creative Thinking, Menjadi Inovatif dan Kreatif dalam mengembangkan Gagasan-gagasan Besar, Yogyakarta: GOLDEN BOOKS 
Dirjen Manajemen Pendidikan dasar dan Menengah, Kegiatan Peningkatan Imtaq, Kewarganegaraan dan Budi Pekerti.2005. Pedoman Kegiatan Intrakurikuler PKn SMA/MA berdasarkan kurikulum 2004, Jakarta : Depdiknas.,Tim Penyusun. 
Suyanto. 2010. Urgensi Pendidikan Karakter, Jakarta : Dirjen Dikdasmen Kementerian Pendidikan Nasional
Rukiyati, dkk. 2008. Pendidikan Pancasila, Yogyakarta : UNY Press 
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. 2010. Modul Pembinaan Nasionalisme melalui jalur pendidikan SMA/MA/SMK, Semarang : Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah

Related Posts

Tidak ada komentar: