Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga
sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk
melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri,
sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam
pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk
komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan
penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah,
pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan,
dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.
Selama ini, pendidikan informal terutama dalam lingkungan keluarga belum memberikan
kontribusi yang cukup berarti dalam mendukung pencapaian kompetensi dan pembentukan
karakter peserta didik. Kesibukan dan aktivitas kerja orang tua yang relatif tinggi, kurangnya
pemahaman orang tua dalam mendidik anak di lingkungan keluarga, pengaruh pergaulan di lingkungan sekitar, dan pengaruh globalisasi ditengarai bisa berpengaruh negatif terhadap
perkembangan dan pencapaian hasil belajar peserta didik. Salah satu solusi alternatif untuk
mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pendidikan karakter terpadu, yaitu memadukan
dan mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan
formal di sekolah. Dalam hal ini, waktu belajar peserta didik di sekolah perlu dioptimalkan agar
peningkatan mutu hasil belajar dapat dicapai, terutama dalam pembentukan karakter peserta
didik .
Integrasi pendidikan karakter ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dapat di
lakukan pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau
nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan
konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya
pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam
kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.
Sasaran pendidikan karakter adalah seluruh warga sekolah, meliputi para peserta didik,
guru, karyawan administrasi, dan pimpinan sekolah menjadi sasaran program ini. Sekolahsekolah yang selama ini telah berhasil melaksanakan pendidikan karakter dengan baik dijadikan
sebagai best practices, yang menjadi contoh untuk disebarluaskan ke sekolah-sekolah lainnya.
Berdasarkan pada UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3,
yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik
agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan
di setiap jenjang, termasuk Sekolah Menengah Atas (SMA) harus diselenggarakan secara
sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter
peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi
dengan masyarakat.
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang
Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam
pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata
krama, budaya, dan adat istiadat.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga
sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk
melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri,
sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam
pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk
komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah,
pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan,
dan etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. Pendidikan karakter perlu dilaksanakan pada setiap jenjang pendidikan karena sangat
urgensi sekali, karena situasi dan kondisi sekarang banyak terjadi degradasi nilai-nilai moral
terhadap anak-anak, banyak terjerumus dan terjerembab ke dalam hal-hal serta perilaku
menyimpang (perilaku negatif). Pendidikan karakter sangat membantu untuk menopang
keberhasilan pembentukan moralitas dan akhlak para generasi muda terutama kalangan anak dan
remaja yang muaranya akan memberikan kekuatan moral (moral force) bagi pembentukan sikap
dan kepribadian yang baik.
Dengan situasi yang demikian inilah penulis melakukan pengintegrasian nilai-nilai
pendidikan karakter melalui proses pembelajaran secara langsung atau tatap muka di kelas
melalui Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Dengan adanya integrasi nilai-nilai pendidikan
karakter melalui Rencana Pelaksanaan Pembelajaran secara langsung maupun tidak langsung
peserta didik dapat memperoleh dan menerima pembelajaran yang harapannya pada tahapan
awal mengetahui dan memahami dan pada akhirnya mengamalkan nilai-nilai tersebut sehingga
dapat terbentuk “Nation Character Building” yang artinya pembentukan karakter bangsa. Bung
Karno pernah menyampaikan bahwa sebelum membangun bangsa Indonesia ini, bentuklah
karakter para generasi muda sebagai ujung tombak di negeri ini. Hal ini membuktikan bahwa
betapa pentingnya pendidikan karakter bagi generasi muda yang akan mampu melahirkan
generasi muda penerus bangsa yang bermartabat dan berakhlak mulia. Dengan pendidikan
karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas
emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong
masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam
tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.
Integrasi nilai pendidikan karakter melalui proses pembelajaran memang perlu sekali diterapkan
disemua jenjang pendidikan. Namun setiap pelaksana pendidikan terutama Gadik (tenaga
pendidik) perlu memahami Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebagai media untuk
mengetahui cara bagaimana menerapkan dan mengintegrasikannya sehingga peserta didik bisa
mengerti dan memahami nilai-nilai pendidikan karakter.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran selanjutnya disingkat RPP dijabarkan dari silabus untuk
mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai kompetensi dasar. Setiap
guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran secara
lengkap dan sistematis. Agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta
memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai bakat, minat
dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
disusun untuk setiap kompetensi dasar yang dapat diklaksanakan untuk satu kali pertemuan atau
lebih. Guru merancang bagian demi bagian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk setiap
pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan.
B. Konsep Pendidikan berbasis karakter
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter diartikan sebagai sifat sifat kejiwaan,
akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Karakter juga bisa diartikan
tabiat, yaitu perangai atau perbuatan yang selalu dilakukan atau kebiasaan. Karakter juga
diartikan sebagai watak, yaitu sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan
tingkah laku atau kepribadian yang didalamnya terdapat unsur pengetahuan, perasaan dan
dorongan naluri.
Karakter anak yang termasuk dalam kategori sehat sebagai berikut :
1. Afiliasi tinggi
Anak tipe ini mudah menerima orang lain menjadi sahabatnya, Ia juga sangat toleran terhadap
orang lain dan bisa diajak bekerjasama. Oleh karena itulah, ia punya banyak teman dan disukai
teman-temannya.
2. Power tinggi
Anak tipe ini cenderung menguasai teman-temannya, tapi dengan sikap positif, artinya ia mampu
menjadi pemimpin untuk teman-temannya. Anak tipe ini juga mampu mengambil inisiatif sendiri
sehingga bisa menjadi panutan bagi teman-temannya.
3. Achiever
Anak tipe ini selalu termotivasi untuk berprestasi(achievement oriented). Ia lebih
mengedapankan kepentingannya sendiri daripada kepentinganb orang lain(egosentris).
4. Asserter
Anak tipe ini biasanya lugas, tegas dan tidak banyak bicara.Ia mempunyai keseimbangan yang
cukup baik antara kepentingan sendiri dan kepentingan orang lain. Selain itu, ia juga mudah
diterima di lingkungannya.
5. Adventurer
Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume II, No 2, Juli 2012
Anak tipe ini biasanya menyukai petualangan, meski tak selalu ke alam. Artinya, anak tipe ini
suka mencoba hal-hal yang baru.
Adapun karakter yang tergolong tidak sehat adalah :
1. Nakal
Anak tipe ini biasanya selalu membuat ulah yang memancing kemarahan, terutama kepada orang
tua. Hal ini seringkali terjadi secara alami dan muncul karena sikap orang-orang yang ada di
sekelilingnya, terutama orang tua.
2. Tidak teratur
Anak tipe ini cenderung tidak teliti dan tidak cermat. Hal ini kadang-kadang tidak disadarinya.
Meskipun diingatkan, ia seringkali masih melakukan kesalahan yang sama.
3. Provokator
Anak tipe ini suka berbuat ulah dengan mencari gara-gara dan ingin mendapat perhatian orang
lain, seringkali tindakannya dalam bentuk kata-kata, namun tidak jarang berujung perkelahian.
4. Penguasa
Anak tipe ini cenderung menguasai teman-temannya dan suka mengintimidasi orang lain. Ia
berharap orang lain harus tunduk dan patuh padanya.
5. Pembangkang
Anak tipe ini sangat bangga jika memiliki perbedaan dengan orang lain dan ia ingin tampil beda,
sehingga ketika ia diminta melakukan sesuatu yang sama dengan orang lain, ia membangkang.
Di dalam Konferensi ASPEN berkaitan dengan karakter menyepakati enam poin utama sebagai
pembangunan atau pendidikan karakter.
C. Langkah-Langkah
Pembentukan karakter
1. Memasukkan konsep karakter pada setiap kegiatan pembelajaran dengan cara :
a. Menanamkan nilai kebaikan kepada anak (knowing the good)
b. Menggunakan cara yang membuat anak memiliki alasan atau keinginan untuk
berbuat baik (desiring the good)
c. Mengembangkan sikap mencintai perbuatan baik (loving the good)
d. Melaksanakan perbuatan yang baik (acting the good)
Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume II, No 2, Juli 2012
2. Membuat slogan yang mampu menumbuhkan kebiasaan baik dalam segala tingkah laku
masyarakat sekolah.
Kebersihan
Kebersihan Sebagian dari Iman
Kebersihan Pangkal Kesehatan
Kerjasama
Tolong-menolonglah dalam kebaikan, jangan tolong-menolong dalam kejelekan
Berat sama dipikul ringan sama dijinjing
Jujur
Kejujuran Modal Utama dalam Pergaulan
Katakan yang Jujur walupun itu pahit
Menghormati
Hormati Guru Sayangi Teman
Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu
Sabar
Sesungguhnya Allah Bersama Orang yang Sabar Jadikan Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu
Sopan
Keselamatan Manusia Terletak Pada Mulutnya.
Anda sopan kami segan
3. Pemantauan secara kontinyu
Pemantauan secara kontinyu merupakan wujud dari pelaksanaan pembangunan karakter.
Beberapa hal yang perlu dipantau antara lain :
Kedisiplinan masuk sekolah
Kebiasaan saat makan di kantin
Kebiasaan di kelas
Kebiasaan dalam berbicara (sopan santun berbicara)
Kebiasaan ketika diMasjid/Musholla
Kebiasaan lain.
Pendidikan karakter juga bisa dilakukan melalui penanaman moral. Dalam penanaman moral
ini dikelompokkan dalam wilayah Soft competencies yaitu kemampuan dasar yang belum tampak
yang harus ditanamkan kepada anak. Soft Competencies inilah yang akan menjadi penentu
keberlangsungan anak hingga mencapai keberhasilan yang tampak, yakni kemampuankemampuan yang terukur dan bisa dirasakan oleh anak. Yang sering disebut Hard Competencies.
Soft Competencies terbagi tiga bagian. Pertama, perilaku yang meliputi kejujuran, sopan santun,
empati dan lain-lain. Kedua, Konsep diri yang meliputi keberanian berpendapat, percaya diri dan
sebagainya, Ketiga,Motivasi yang meliputi kesungguhan belajar, tanggung jawab, disiplin, dan
Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume II, No 2, Juli 2012
lain-lain. Yang termasuk hard competence antara lain kemampuan akademik, kemampuan
berbahasa, kemampuan teknik (terampil komputer, seni dan lain-lain ). Hard Competence bisa
konsisten apabila Soft Competencies memberikan dukungan yang kuat.
Daftar Pustaka ;
Sulhan, Najib. 2010. Pendidikan Berbasis Karakter, Sinergi antara Sekolah dan Rumah dalam
Membentuk Karakter Anak, Surabaya: Jaring Pena.
Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran,Mengembangkan Profesionalisme Guru, Jakarta:
Rajagrafindo persada.
http://id.wikipedia.org/wiki/Nilai_sosial#Pengertian_Nilai_Menurut_para_Ahli dikunjungi 4 Pebruari
2011
http://smatengaran.blogspot.com/2008/06/konflik-dan-integrasi-sosial.html dikunjungi 4 februari 2011
Tom Lickona.,Eric Schaps.,Chaterina Lewis. 2007. Character Education Partnership Eleven
Prinsiples of Effective Character education, Washington DC: Character Education
Partnership.
Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume II, No 2, Juli 2012
Abdullah Munir. 2010. Pendidikan Karakter, Membangun karakter Anak-Anak dari Rumah,
Yogyakarta:PEDAGOGIA.,Pustaka Insan Madani.
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/Tentang Pendidikan
Suyanto. 2006. Di Belantara Pendidikan Bermoral,Yogyakarta: UNY Press
John Adair. 2008. The Art of Creative Thinking, Menjadi Inovatif dan Kreatif dalam
mengembangkan Gagasan-gagasan Besar, Yogyakarta: GOLDEN BOOKS
Dirjen Manajemen Pendidikan dasar dan Menengah, Kegiatan Peningkatan Imtaq,
Kewarganegaraan dan Budi Pekerti.2005. Pedoman Kegiatan Intrakurikuler PKn
SMA/MA berdasarkan kurikulum 2004, Jakarta : Depdiknas.,Tim Penyusun.
Suyanto. 2010. Urgensi Pendidikan Karakter, Jakarta : Dirjen Dikdasmen Kementerian
Pendidikan Nasional
Rukiyati, dkk. 2008. Pendidikan Pancasila, Yogyakarta : UNY Press
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. 2010. Modul Pembinaan Nasionalisme melalui jalur
pendidikan SMA/MA/SMK, Semarang : Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar